April 06, 2011

EQUALIZER

 Equalizer secara umum dapat dibagi dua, yaitu graphic dan parametric. Graphical EQ banyak dipakai pada Equalizer rumahan, sedangkan yang banyak kita pakai dalam dunia audio engineering adalah parametric EQ.

Parametric EQ memiliki tiga buah parameter yang dapat disetel yaitu:

  • Center frequency : Frequency tengah yang ingin anda cut / boost

  • Gain : jumlah cut / boost dalam satuan dB

  • Q Factor : Lebar atau sempit nya bandwith dari frequency yang di cut / boost

Q factor: semakin tinggi angka nya, semakin sempit frequency yang terkena. Semakin rendah Q nya, semakin lebar frequency yang kena.

               Selain Bell Shape EQ yang dapat kita tentukan Q nya, kita mengenal juga yang namanya Shelving EQ. Pada shelving EQ, bandwith dan center frequency tidak lagi relevan. Sebagai ganti nya f di deskripsikan sebagai cut-off frequency, dan g adalah slope nya.

Low Shelf EQ: Semua frequency dibawah f yang kita tentukan akan terkena boost / cut

High Shelf EQ: Semua frequency diatas f yang kita tentukan akan terkena boost / cut

High Pass EQ: Semua frequency dibawah f yang kita tentukan akan dipotong / dibuang.

Low Pass EQ: Semua frequency diatas f yang kita tentukan akan dipotong / dibuang.

EQ sebaiknya digunakan sesudah proses tracking. Artinya, pada saat merekam suatu suara, baik itu vocal, atau gitar, dianjurkan untuk tidak meng EQ nya terlebih dahulu. Biasakanlah untuk mencari sound yang terbaik pada saat merekam. Mungkin dengan merubah letak microphone, mengganti microphone nya, atau alat musik nya. Yang harus diingat, anda tak dapat mem boost/cut apa yang tidak ada dari awal nya.

Low Cut Filter: Digunakan ketika merekam vocal dengan jarak dekat. Karena ada nya proximity Effect, juga menjaga getaran2 spt dari kaki, AC, dll nya.

Apabila anda terpaksa meng EQ lebih dari 9 dB, apabila mungkin, cobalah untuk merubah posisi microphone atau men tune alat musik anda untuk mendapatkan sound yang diinginkan.Apabila anda kebagian job mixing sementara orang lain yang men track nya, maka anda mau tak mau terpaksa menggunakan EQ. Dalam hal inicobalah untuk menghindari penggunaan lebih dari 9 dB. Penggunaan EQ, terutama saat mem boost nya, memiliki efek samping yaitu phase shifting. Lebih baik utk meng cut, karena efek samping nya tidak sebesar mem boost.

Gunakan "cut" utk menghilangkan frequency yg bermasalah atau membuat sound menjadi lebih baik. Gunakan "boost" utk merubah warna dari sound.

          Natural EQ

Asli nya di alam, frequency yang ber energy rendah adalah high frequency. Jadi nya pada jarak yang jauh, yang pertama kali hilang adalah high frequency nya. Sebagai contoh: Apabila kita mendengar suara drum dari ruangan sebelah, suara kick drum ( low frequency )dapat menembus tembok karena memiliki energy lebih dibandingkan dengan suara cymbal ( High Frequency ). Teori ini kita pergunakan sewaktu mixing dan ingin membuat beberapa instrument terdengar lebih jauh.

           Penggunaan EQ

Penggunaan EQ sebenarnya dapat menurunkan kualitas dari sound. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk mencari sound yang diinginkan dari awal nya. Ingatlah bahwa anda tak dapat meng-cut atau boost frequency yang tidak ada dari awal nya. Sebagai contoh, apabila seseorang menaruh bantal diantara beater kick drum dan microphone, maka bagaimanapun anda mem-boost atau meng-cut frequency, maka tetap tak akan mendapatkan sound yang diinginkan.

Jangan meng EQ instrument utk menjadikan nya terdengar enak dalam solo, tetapi bagaimana membuat instrument itu terdengar baik di dalam mix. Contoh nya: Full Range gitar solo terdengar enak waktu solo, tapi mungkin akan menabrak instrument lain nya dalam mix.

                EQ biasa digunakan untuk:

  • Merubah warna dari sound

  • Memisahkan dua instrument yang frequency nya bertabrakan

  • Menyingkirkan frequency kotor yang mengganggu

  • Mastering

Frequency dapat dibagi atas:

  • Very Low yaitu dari sekitar 80 Hz kebawah

  • Low sekitar 80 Hz - 350 Hz

  • Low Midrange sekitar 350 Hz - 2 kHz

  • High Midrange sekitar 2 kHz - 6 kHz

  • High yaitu sekitar 6 kHz keatas

Penggunaan EQ untuk pemula:

  • G nya tidak melebihi 9 dB

  • Q nya berkisar sekitar 1.5

  • Frequency dibawah 150 Hz gunakan Low Shelf EQ

  • Frequency diatas 8 kHz gunakan High Shelf EQ

Apabila mungkin cobalah untuk mixing tanpa mempergunakan terlalu banyak EQ. Selain lebih hemat waktu, juga sound yang dihasilkan akan jauh terdengar lebih natural. Cobalah untuk terlebih dulu mixing sebaik-baik nya dengan hanya mengatur volume fader dan reverb. Mungkin sekali anda akan merasakan hasil yang natural dan terbuka (lebar).

Panduan Dasar Equalisai


Semoga Bermanfaat

1. Bass guitar
Boost 100-200 Hz :: add body
Boost 500-800 Hz :: raspy sound
Boost 700-1000 Hz :: fill out thin sound
Boost 2-5 kHz :: add impact & an edge
Cut 4-5 kHz :: eliminate pick noise

2. Drums
Boost 80-250 Hz :: add fullness
Cut 300-500 Hz :: clean up the sound
Boost 5 kHz :: add crispness

3. Kick
Boost 50-80 Hz :: depth & rounded sound
Boost 250 Hz :: fullness
Cut 200-400 Hz :: improve clarity
Cut 400-600 Hz :: more open sound
Boost 2.5-10 kHz :: beater sound & attack transient

4. Snare
Boost 100-130 Hz :: add fullness
Boost 250 Hz :: add warmth
Boost 3-6 kHz :: snap
Boost 8-10 kHz :: add crispness & attack
Cut 12 kHz :: warmer sound

5. Toms
Boost 20-120 Hz :: add fullness (floor toms)
Boost 240 Hz :: add fullness (rack toms)
Boost 5 kHz :: attack
Boost 4-8 kHz :: add presence
Boost 10+ kHz :: add air

6. Hi-hat
Boost 200 Hz :: clank sound
Cut 150 Hz :: clean up the sound & minimize effects
Boost 10 kHz :: adds "sheen"

7. Cymbals
Boost 200 Hz :: clank sound
Cut 1-2 kHz :: clean up clankiness
Boost 5-10 kHz :: shimmer

8. Overheads
Cut 100 Hz :: clean up the sound
Boost 10+ kHz :: add air & sheen

9. Acoustic guitar
Boost 80-120 Hz :: low end
Boost 250 Hz :: add body
Boost 2.5-5 kHz :: clarity & punch
Cut 80-100 Hz :: clean up the sound & aid
Boost 7 kHz :: presence (for lead acoustic)

10. Electric guitar
Boost 240 Hz :: fullness
Boost 2.5 kHz :: bite & presence
Cut 100 Hz :: clean up the boominess
Boost 125-250 Hz :: add warmth
Boost 2.5-4 kHz :: bring out rhythm guitar & emphasize the attack
Boost 4-6dB 5 kHz :: bite & presence (lead guitar)

11. Horns
Boost 120-240 Hz :: fullness
Boost 5-7.5 kHz :: become shrill
Boost 300-400 Hz :: fatten the sound
Cut 1-3.5 kHz :: harshness
Boost 6-10 kHz :: high-end

12. Piano
Boost 80-150 Hz :: low-end emphasis
Cut 250-350 Hz :: reduce boom
Boost 2.5-5 kHz :: add presence, attack & honky-tonk sound

13. Violin
Boost 250 Hz :: fullness
Cut 1-3.5 kHz :: harshness
Cut 7.5-10 kHz :: scratchiness

14. Vocals
Boost 120 Hz :: fullness
Boost 200-250 Hz :: boom
Boost 5 kHz :: presence
Boost 7.5-10 kHz :: sibilance
Boost 2.5-3.5 kHz :: lead vocals
Boost 6-10 kHz :: lead vocals
Rujukan dari David Miles Huber & Philip Williams
"Professional Microphone Techniques"

15. Electric guitar
Boost 100 Hz :: more bottom
Cut 300-500 Hz :: eliminate some of the nasal quality
Boost 700 Hz :: throaty & woodsy sound
Boost 1 kHz :: more edge
Boost 3 kHz :: more bite
Boost 5-10 kHz :: more brighter

16. Kick
Boost 60/100 Hz :: more bottom end
Cut 300-700 Hz :: eliminate the box like sound
Boost 1-3 kHz :: more attack

17. Snare
Boost 2dB 100 Hz :: more bottom end
Cut 300-700 Hz :: eliminate the box like sound
Boost 2-6dB 5-10 kHz :: brighten up the top end

18. Bass guitar
Boost 100 Hz :: fatten the bottom
Boost 2.5 kHz :: more bite

19. Acoustic guitar
Cut 100-300 Hz :: clean up the boominess
Boost 8-10 kHz :: add some "silk"
Boost 700-1200 Hz :: more woodsy

20. Toms
Boost 2dB 100 Hz
Cut 4dB 300-700 Hz
Boost 2dB 5+ kHz

21. Piano
Boost 8-10 kHz :: top end
Boost 4-5 kHz :: add a little definition

Rujukan dari Michael Laskow & Alex Reed "The Studio Buddy"

WATT VS SPL

Dua kata yang menjadi headline diatas memang sudah sangat akrab di kalangan profesional audio. Walaupun keduanya berhubungan sangat akrab, namun pengertian antara keduanya kadang masih samar-samar.


Pasti seringkali kita mendengar “Sound systemnya berapa watt, mas?” Pertanyaan sesorang tentang besaran watt sebuah sistem biasanya dihubungkan dengan tingkat kekerasan sistem itu sendiri. Benarkah demikian?

Yang pasti, kekerasan bunyi sebuah sistem bukanlah tergantung pada seberapa besar watt yang kita kirim kepadanya. Akan tetapi tergantung pada berapa besar SPL yang dikeluarkan oleh sistem itu. Hal ini karena SPL (Sound Pressure Level), yaitu satuan ukuran untuk tingkat efisiensi speaker.


Sebagai contoh, katakanlah speaker kita mampu menghadirkan SPL 100db pada 1 watt 1 meter (hal ini dikenal juga dengan tingkat sensitivitasnya). Meningkatkan daya yang kita kirimkan hingga dua kali lipatnya, hanya akan mengakibatkan penambahan SPL sebesar 3db saja. Jadi pada 2 watt 1 meter hanya akan dihasilkan SPL 103db. Sedangkan pada 4watt akan dihasilkan 106db, 8watt dihasilkan 109db, dan seterusnya, hingga tergantung pada kemampuan handling si speaker tersebut.


Dan hal itu tergambar pada charts di bawah ini :

1 watt 1 meter 100db

2 watt 1 meter 103db

4 watt 1 meter 106db

8 watt 1 meter 109db

16 watt 1 meter 112db

32 watt 1 meter 115db

64 watt 1 meter 118db

125 watt 1 meter 121db

250 watt 1 meter 124db

500 watt 1 meter 127db


Sehingga secara teori, dari 1watt sampai 500W hanya akan ada peningkatan SPL sebesar 27db.

Padahal ketentuan masih sangat tergantung pada tingkat efisiensi sang speaker. Bisa saja pada sistem speaker yang kurang begitu efisien dengan spesifikasi 97db, 1watt 1 meter, kadang kita membutuhkan power dua kali lipatnya untuk mencapai SPL tersebut. Sedangkan pada speaker yang lebih efisien, yang katakanlah dengan spesifikasi 103 db, 1watt 1 meter, bisa saja kita hanya membutuhkan daya setengahnya saja untuk mencapai SPL yang sama dengan yang sebelumnya.


Dari bahasan diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa tingkat efisiensi sistem speaker ternyata memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap sistem touring. Kalau saja kita bisa mendapatkan SPL yang memadai dengan hanya menggunakan setengah jumlah loudspeaker dan powernya, itu akan sangat membantu dalam pengepakan di tuk. Hemat penggunaan truk juga berarti akan menghemat BBM, meminimalisasikan resiko dalam perjalanan, hemat tenaga kerja, hemat waktu dala pemasangan, dan sebagainya. Beberapa point itulah yang beberapa tahun belakangan ini menjaditantangan bagi tim riset di berbagai pabrikan spekaer dunia untuk membuat sistem speaker berefisiensi tinggi untuk kebutuhan touring dan sound production. Itulah sebabnya sistem speaker Line Array dengan masing-masing terapan teknologinya menjadi begitu populer belakangan ini.


Aturan yang berlaku pada penggandaan watt power itu juga berlaku terhadap penggandaan jumlah kotak speaker. Mari kita gunakan sebuah speaker full range yang sudah terdiri dari Hi Mid dan Low sebagai contoh. Katakanlah mereka berkemampuan 109db, 1watt 1meter.

Satu box speaker ini akan berkekuatan 109db, maka 2 buah box speaker yang sama (dengan rack powernya juga) hanya akan meningkatkan SPL sebesar 3db, sehingga menjadi 112db. Empat box menjadi 115db, 8 box 118db, 16 box 121db, dan 32 box 124db.

Pada 32 box sistem speaker untuk konser, secara teoritis akan menyajikan SPL sebesar 124db, 1watt 1meter. Dan pada 500watt per box akan memproduksi SPL sebesar 151db!

Begitulah teorinya. Masih ada faktor lain yang akan memungkinkan untuk terjadinya penambahan SPL. Misalnya dengan apa yang dinamakan “Couple Up”, yakni efek dari mendekatkan sebuah kotak speaker dengan kotak speaker lainnya. Sebagai contoh ketika 4 buah speaker low diset-up dalam 4 box diagram, masing-masing dari 2 box itu akan mendapatkan ekstra boost hingga 3db pada bagian low end-nya. Dengan demikian akan terjadi efisiensi speaker dari keempat box tersebut. Total penambahan SPLnya bisa mancapai 6db dari keempatnya.


SPL Vs Jarak

Jarak dengar terhadap speaker juga akan sangat mempengaruhi SPL. Itulah makanya makin jauh posisi kita dari speaker, maka penurunan SPL yang terjadi akan lumayan signifikan. Penurunan SPL yang terjadi ssuai dengan keterbalikan jarak.

Artinya penggandaan jarak dengar dengan speaker akan mengakibatkan penurunan SPL sebesar 6db.

Sehingga pada 32 box sistem speaker itu, untuk 500watt / box, maka secara teori akan dihasilkan SPL sebesar 151db pada 1meter. Dan pada penggandaan jarak menjadi 2meter, SPLnya akan berkurang menjadi 145db. Kemudian pada 4meter akan berkurang sebesar 139db, dan seterusnya.

Pada sebuah konser, dimana jarak antara penonton dan sistem speaker bisa berkisar antara 16 sampai 64meter, maka penurunan SPL yang terjadi malah bisa menjadi lambat, atau tidak terjadi dalam ukuran per 1meter, melainkan per area. Misalnya kalau jarak 16meter pertma terjadi penurunan level sekitar 24db, maka pada jarak 32meter berikutnya akan terjadi penurunan 12db (dari yang 24db). Sedangkan di jarak 64meter berikutnya, hanya terjadi penurunan 6db.

Pada event dengan area venue seluas ini, jarak ideal antara mixing console adalah 30 sampai 40meter. Dimana pada jarak ini, bunyi bocoran atau sound direct dari panggung sudah tidak terdengar lagi, sedangkan bunyi dari sistem speaker utamanya malah terdengar dengan kekuatan yang cukup baik. Jadi sangat berpeluang untuk menghasilkan mixing yang jauh lebih sempurna.