Agustus 01, 2010

Pitch Shifter

Seperti dikatakan sebelumnya, efek ini mampu menambah atau mengurangi tonalitas dari sinyal input. Karakteristik ini bisa digunakan dalam berbagai cara berbeda yang menarik. Sebagai contoh, kita bisa memasang efek ini dengan cara tertentu sehingga not input dinaikkan hingga satu oktaf (modalitas ini terkadang digunakan dalam penampilan solo gitar listrik). Dengan memainkan not yang dikeluarkan dengan delay dan peningkatan (atau pengurangan) tonalitas, berbagai efek yang berbeda dapat diciptakan.

Gambar 7.6 Penggunaan pitch shifter
Gambar (a) diatas menunjukkan kemungkinan dibuatnya efek arpeggio dengan menghasilkan duplikat suara yang di-delay berbarengan dengan peningkatan per step dalam tonalitas. Gambar (b) kita melihat bahwa, dengan tidak mengubah pitch, maka pitch shifter berlaku seperti delay. Dalam gambar (c), kita melihat bagaimana dengan memasang waktu delay pada 0 kita bisa menciptakan chord dengan hanya memainkan satu not.

Chorus

Efek Chorus bertindak lebih jauh daripada Phaser dan Flanger, dengan menambahkan sebuah modul yang menambahkan variasi pada amplitudo sinyal yang dimanipulasi.

Gambar 7.5 Chorus
Waktu, amplitudo, dan variasi pitch menghasilkan efek yang mirip dengan suara chorus (paduan suara), sehingga dari sanalah muncul nama tersebut.
Ditandai sebagai:,

7.4 Flanger

Ditulis dalam Bab 7 Efek dan Prosesor Signal oleh endydaniyanto pada Desember 29, 2009
Flanger menambahkan efek phasing dengan cara menambahkan pitch shifter. Dengan kata lain, sebuah rangkaian yang mampu meningkatkan atau mengurangi tonalitas dari sinyal (contoh klasik pitch shift adalah ketika kita mempercepat atau memperlambat laju pita magnetik; pada masa-masa awal, efek ini diciptakan melalui penggunaan alat perekam analog). Sebagai contoh fenomena ini, kita umpamakan sebuah sinusoid pada frekuensi tertentu yang direkam pada pita magnetik. Dengan meningkatkan kecepatan pita kita akan melihat bahwa sinusoid tereproduksi dengan lebih cepat, yang artinya frekuensi sinusoid meningkat. Gambar berikut menunjukkan skema sebuah flanger:

Gambar 7.4 Flanger
Kita dapat melihat bagaimana LFO mempengaruhi modul delay dan pitch shifter.

Phaser

Efek ini mengkombinasikan sinyal original dengan sinyal delaynya, dimana waktu delay mengalami modulasi (ini berarti waktu delay berubah secara konstan dan laju perubahannya ditentukan suatu fungsi, misal sinusoid). Mari kita lihat apa yang terjadi dalam situasi ini dengan mengambil contoh sinyal sinusoid:

Gambar 7.2 Sinusoid dengan kesenjangan fase
Bentuk gelombang di sebelah atas merupakan sinyal original yang kita asumsikan dibentuk dari sebuah sinusoid dan harmonik keduanya. Gelombang kedua mirip dengan yang pertama tetapi memiliki delay variabel yang bernilai setengah semi-gelombang pada puncaknya. Sekarang kita bayangkan gelombang kedua berosilasi pada axis horizontal antara 0 dan posisinya pada diagram. Ketika berada di 0, kedua gelombang memiliki keseragaman fase dan menghasilkan penguatan semua frekuensi komponen sinyal. Ketika berada pada posisi delaynya (seperti pada gambar), kita melihat bagaimana harmonik pertama (atau fundamental) terbatalkan dan harmonik kedua diperkuat. Jadi, kandungan frekuensi sinyal original telah mengalami perubahan. Semua posisi intermediat berlaku dengan cara yang berbeda, baik pada harmonik pertama maupun kedua.
Kesimpulan: efek phasing dihasilkan dengan menjumlahkan kepada sinyal original sebuah kopi sinyal yang didelay, dimana waktu delay dimodulasi oleh gelombang tertentu (seandainya delay tidak dimodulasi maka kita mendapatkan perubahan yang statis dari kandungan frekuensi sinyal original. Dengan adanya modulasi ini, efek yang dihasilkan lebih menarik).
Kita bisa mensimulasi efek phaser dengan menggunakan dua mikrofon untuk menangkap satu sumber sinyal. Dengan memasang satu mikrofon diam di tempat, dan menggerakkan yang satunya lagi maju dan mundur secara teratur terhadap sumber suara, maka dihasilkan dua kopi dari satu suara yang sama: satu kopi ter-delay dari yang satunya lagi. Gerakan maju-mundur mikrofon kedua mensimulasikan modulasi waktu delay.

Gambar 7.3 Phaser
Kita bisa melihat bagaimana sinyal input dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama sampai ke output tanpa mengalami perubahan, sedangkan bagian kedua dilewatkan melalui delay kemudian dimix dengan sinyal input. Waktu delay dikendalikan oleh LFO (Low Frequency Oscillator). LFO ini terdiri dari sebuah osilator yang menghasilkan gelombang frekuensi rendah, umumnya sinusoid pada 1 Hz atau bahkan kurang. Osilator ini biasanya digunakan untuk mengendalikan parameter efek yang lain, seperti dalam kasus ini, dimana LFO memodulasi waktu delay antara kedua sinyal (sebagai contoh, jika kita modulasi dengan sinusoid 1 Hz, kedua sinyal bersamaan fasenya setiap detik). Kita dapat melihat bagaimana satu bagian dari sinyal yang dialihkan ke output diambil dan dikirim kembali ke input. Metode ini digunakan pada berbagai efek lainnya untuk mengamplifikasi efek lebih lanjut.
Berikut adalah tipikal kendali suatu phaser:
Rate (laju): laju perubahan waktu delay (frekuensi modulator LFO).
Mix: menggabungkan sinyal original dengan sinyal yang dimanipulasi.
Feedback: mengendalikan jumlah phasing yang diterapkan.