Agustus 01, 2010

Delay

Menambahkan kopi sinyal yang di-delay (ditunda) sehinga menciptakan efek echo. Dulu efek ini dihasilkan dengan menggunakan perekam analog dan mengeksploitasi perbedaan jarak antara repro head dengan recording head. Dengan mengirimkan output channel (atau saluran) kiri ke channel kanan dan sebaliknya, dan juga dengan memanipulasi kecepatan pita, bisa didapatkan efek yang ampuh dan, pada masanya, revolusioner. Era digital telah sangat menyederhanakan proses ini. Sekarang, efek delay mudah diciptakan dan teknologi digital telah membuka kemungkinan-kemungkinan inovatif yang menarik, seperti ping-pong delay (suara pengulangan dikirim ke channel kiri dan kanan secara bergantian) dan multi tap delay (echo diulang dengan interval waktu yang berbeda sehingga menciptakan efek pengenceran). Dalam musik, waktu delay seringkali didasarkan atas tempo lagu. Dengan cara ini, pengulangan suara terjadi sesuai dengan tempo dalam musik, menciptakan efek yang memenuhi lebih lanjut suara dalam lagu. Untuk menghitung waktu delay (dalam milisekon) yang dibutuhkan untuk musik dengan n ketukan (BPM atau beats per minute) kita menggunakan formula berikut:
Delay time (ms)= 60000 ms/bpm

Reverb

Reverb atau gema adalah suara yang bertahan dalam suatu lingkungan setelah sinyal langsungnya sudah padam. Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas, kita mengambil contoh makroskopik: suara tembakan dalam sebuah katedral. Contoh ini memang merupakan kejadian nyata yang langka, tetapi merupakan contoh yang ideal untuk memahami suara. Setelah suara tembakan (suara yang disebabkan pistol adalah ledakan yang pendek), suara bergema selama beberapa detik dan kemudian padam perlahan-lahan. Gema yang memudar ini sebenarnya adalah suara asli yang memantul dari permukaan-permukaan yang ditemuinya. Kita telah melihat, dalam refleksi, sebagian dari energi diserap dan sisanya dipantulkan. Jadi, pada setiap pantulan, gelombang kehilangan sebagian energi hingga memudar sama sekali.
Reverb mengikuti aturan yang sangat spesifik, yang diringkas dalam diagram berikut:

Gambar 7.1 Tingkah laku suara reverb
Diagram memperlihatkan amplitudo dari berbagai pantulan dan instan waktu pantulan-pantulan itu terjadi. Suara pertama yang sampai ke pendengar adalah sinyal langsung, yaitu suara yang menempuh jalur terpendek. Setelah henti sejenak yang disebut pre-delay, early reflections atau pantulan awal tiba, yaitu suara yang telah memantul dari satu permukaan saja dalam perjalanannya mencapai telinga pendengar. Terakhir, late reflections atau pantulan akhir tiba, yaitu suara yang memantul dari lebih dari satu permukaan. Karena pantulan akhir tiba dengan saling tumpah-tindih, maka dihasilkan suara yang kontinyu, dan juga karena pantulan akhir ini sangat berdekatan satu sama lain maka disebut dengan reverb cluster.
Untuk mereproduksi tingkah laku yang sama, teknik-teknik yang kreatif diimplementasikan di masa lalu. Sekarang kita akan melihat teknik-teknik ini, yang masih disimulasikan oleh modul reverb digital modern.
Spring reverb: untuk mensimulasi efek reverb, digunakan sebuah per dalam sebuah rongga. Dua transduser dipasang pada ujung-ujungnya, yang saling bergantian mentransfer sinyal suara ke per tersebut. Mikrofon digunakan untuk menangkap suara yang dihasilkan. Teknik ini bukanlah teknik yang amat realistis; spring revern digunakan dalam beberapa amplifier gitar, dan jarang digunakan untuk vokal. Modul digital yang menggunakan reverb tipe ini bisa digunakan untuk mendapatkan suara gitar tahun 60an.
Plate Reverb: dua transduser dipasang pada piringan yang digantung secara vertikal, satu memberikan sinyal input, dan satunya lagi menangkap getaran yang dihasilkan. Untuk memvariasikan karakteristik efek, kedua transduser bisa dipasang pada titik-titik yang berbeda. Teknik ini menawarkan hasil yang lebih realistis dibandingkan spring reverb, khususnya pada frekuensi tinggi.
Chamber reverb: sumber suara ditempatkan di dalam ruangan yang dindingnya memiliki kualitas pantulan tertentu. Suara yang dihasilkan ruangan ditangkap menggunakan mikrofon. Kelemahan teknik ini adalah keterbatasannya dikarenakan tidak mudah memindahkan chamber.
Hampir semua generasi terakhir peralatan reverb menggunakan teknologi digital dan memanfaatkan algoritme simulasi yang sangat kompleks (yang semakin mudah diakses akibat kemajuan kemampuan pemrosesan komputer). Berikut adalah daftar kendali utama yang tersedia pada unit reverb digital:
Pre-delay: mengendalikan waktu pre-delay.
Early reflection: mengendalikan panjang dari pantulan awal.
Decay: durasi decay reverb cluster.
Mix: persentase antara dry dan wet signal reverb.
Room dimension (dimensi ruangan):seringkali nilai merujuk kepada bentuk dan dimensi lingkungan (hall atau aula, room atau ruangan, chamber, cathedral atau katedral, spring/plate).
HF Ratio (rasio frekuensi tinggi): frekuensi tinggi merupakan frekuensi yang pertama kali teratenuasi ketika terjadi pantulan. Kendali ini memungkinkan kita untuk mensimulasi kemampuan serapan permukaan-permukaan tertentu.
Stereo width (kelebaran stereo): melebarkan atau menajamkan stereo image (citra stereo) dari reverb.
Beberapa unit juga menyediakan fasilitas untuk menset waktu decay yang berbeda untuk frekuensi yang berbeda.

Efek dan Prosesor Signal – Pendahuluan

Pada bagian ini kita akan mengilustrasikan metode utama manipulasi sinyal audio dan peralatan yang digunakan. Agar mudah, kita akan merujuk semua alat yang dibahas sebagai efek. Namun, harus ditekankan bahwa ada perbedaan penting, yaitu efek dibagi menjadi dua kategori: efek dalam arti sebenarnya, dan prosesor signal.
Efek: adalah modul yang memanipulasi satu bagian dari signal. Dalam modul ini sinyal dibagi menjadi dua: satu bagian mencapai output secara langsung, sedangkan bagian yang lain melalui rangkaian dan dimanipulasi. Pada output modul, sebuah mixer menggabungkan kembali kedua sinyal, satu yang tidak dimanipulasi (disebut dry signal atau sinyal kering) dan satu yang telah mengalami manipulasi (disebut wet signal atau sinyal basah). Karakteristik utama dari efek adalah sinyal kering dan sinyal basah dijumlahkan secara paralel. Berikut adalah gambar skema elektrik komposisi kedua suara tersebut:

Gambar 7.1 Penerapan efek kepada sinyal
Proses sinyal: adalah modul yang melakukan manipulasi pada keseluruhan sinyal.

Dalam kasus ini modul disusun secara berseri.
Perkembangan elektronik, bersama dengan pengetahuan intrinsik akan suara, telah memungkinkan kreasi sejumlah rangkaian yang menjadi sumber daya tak tergantikan di bidang sound engineering. Perkembangan elektronika digital telah membawa kemajuan lebih lanjut, dengan adanya modul-modul yang mampu memproses sinyal secara matematis selain secara elektronis. Pada saat ini, pasar sedang terbanjiri oleh berbagai efek yang berbeda dengan hasil akhir yang sulit dibayangkan. Beberapa dari efek ini benar-benar berharga, beberapa bisa dianggap sebagai ‘kemewahan’ untuk memberikan sentuhan ekstra kepada karya artis, sedangkan beberapa yang lain begitu khasnya hingga hanya cocok digunakan dalam situasi tertentu.
Semua efek yang dirujuk dalam bagian ini dapat dicapai menggunakan rangkaian elektronik, rangkaian digital yang memiliki algoritme tertentu, atau melalui modul yang menggabungkan kedua pendekatan ini. Rangkaian elektrik memanipulasi sinyal input dan memodifikasi karakteristik (seperti amplitudo atau kandungan frekuensi). Kualitas dari modul yang digunakan bergantung kepada kualitas dari komponen elektrik tunggal (resistansi, kapasitor, induktansi, konektor, dsb) dan kualitas rancangan rangkaian itu sendiri. Sirkuit digital beroperasi dengan cara yang sama sekali berbeda. Sinyal input disampel dan disimpan dalam sistem memori digital (RAM) kemudian rangkaian digital (yang terdiri dari berbagai rangkaian terintegrasi) melakukan operasi matematis pada data yang tersimpan dengan algoritme yang mensimulasi keadaan nyata.
Berikutnya kita akan melihat efek-efek utama yang digunakan dalam sound engineering dan juga prosesor signal yang paling sering digunakan.